Beberapa hari ini masjid kami kedatangan jamaah dari Jambi, berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain, mengajak untuk menghadiri shalat berjamaah dan memberikan tausiyah setelah shalat jamaah selesai. Kebetulan ba'da ashar saya ikut mendengarkan tausiyah singkat mereka, akhir kata mereka menawarkan kepada semua yang hadir untuk menjadi dalil, mudahnya menjadi penunjuk jalan, menunjukkan mana rumah milik warga yang islam, mana yang non islam, mana yang janda, untuk diketuk rumahnya, diberi tausiyah singkat dengan harapan mau shalat jamaah ke masjid.
Semua mata pun tertuju ke saya, ya iyalah soalnya cuma saya warga setempat yang ikut dengerin tausiyahnya. Akhirnya ditentukan insyaAllah nanti ba'da maghrib kita datangi rumah warga. Ba'da maghrib pun tiba, sebelum jalan ke rumah warga, kami berdoa agar dimudahkan oleh Allah segala urusannya. Sampai tibalah dirumah pertama, kami ketok pintunya, ucap salam lalu ijin memberikan tausiyah. Setelah diperbolehkan tausiyah pun mulai disampaikan.
Deg... Serasa hati bergetar melihat apa yang ada didepan mata. Tentu saja saya tak menyadarinya karena dari fisiknya seperti orang pada umumnya, seumuran dengan saya, namun ternyata dia adalah tuna rungu dan tuna wicara.
Bayangkan... seorang anak tuna rungu dan tuna wicara jauh-jauh dari Jambi ke Semarang mengetok setiap pintu rumah, memberikan tausiyahnya dengan bahasa isyarat didampingi oleh penterjemah. Seolah diingatkan bahwa dakwah itu tak memandang kekurangan. "Barangsiapa menyempurnakan wudlunya lalu berjalan ke masjid, maka setiap langkah kaki kanannya menambah pahalanya dan setiap langkah kaki kirinya menggugurkan dosanya. Karena itu kami mengundang bapak, sekiranya berkenan untuk datang shalat isya' berjamaah di masjid. InsyaAllah adek kita yang tuna rungu dan tuna wicara ini akan memberikan tausiyah lagi selepas shalat isya' nanti". Kurang lebih seperti itu ajakan mereka.
Jauh sekali diri ini dengan mereka, kita yang lebih sempurna nikmatnya mungkin tidak lebih baik dari mereka. Rasa minder, dicemooh, disakiti pastilah sering mereka rasakan, namun semua kekurangan yang ada tidaklah membuat mereka berdiam diri. Dengan susah payah mereka mempelajari agama untuk mereka dakwahkan, belajar tanpa pernah mendengar atau mengucapkannya. Darisinilah sudut pandang ini berubah. Tidak lagi menganggap dakwah itu sebuah beban, namun dakwah itu karena kasih sayang. Sebagaimana Rasulullah saat mendakwahi penduduk Ta'if, dilempari batu sampai berdarah-darah.
Namun apa yang dilakukan Rasulullah? Sambil mengusap keringat dan menyeka darah yang mengalir dari lukanya, Rasulullah Saw berdoa dengan khusyuk. “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi yang lemah dan Engkau jualah pelindungku. Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, semua itu tak kuhiraukan karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.” (Siratu Ibnu Hisyam 1/381)
Tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, ’Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.” Rasulullah Saw. melanjutkan, “Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku. Ia berkata, ’Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung. Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Jawab Rasulullah, “Aku menginginkan Allah berkenan menjadikan anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR Bukhari Muslim).
Sesungguhnya dakwah itu karena kasihsayang, karena islam adalah rahmat untuk seluruh alam, bukan sebatas diri sendiri. Dakwah itu bukan menggurui atau memaksa, namun dakwah itu mengajak bil hikmah, baik dengan lisan atau perbuatan. Semakin besar dan sempurna kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, semakin besarlah amanah kita, semakin banyak pula yang nanti akan ditanyakan dan dipertanggungjawabkan. Mudah-mudahan bermanfaat.
muhammad taufik - 5 Mei 2013
